Waktu pertama kali saya mendengar istilah “Pakkuru Sumange“, saya agak bingung. Apa ini semacam mantra? Ternyata bukan. Ini adalah tari tradisional khas Bugis yang sarat makna spiritual dan etika. “Pakkuru” berarti memanggil atau menyampaikan, sedangkan “Sumange” adalah semangat atau jiwa. Jadi, secara harfiah, Pakkuru Sumange berarti menyampaikan semangat. Bukan hanya tari biasa—tapi semacam bentuk ekspresi jiwa yang luhur.
Tari ini sering ditampilkan dalam upacara adat dan kegiatan kebudayaan di Sulawesi Selatan. Gerakannya lembut tapi penuh makna. Ada bagian ketika penari seperti sedang menyapa roh leluhur, lalu di bagian lain mereka seperti sedang menyampaikan harapan dan doa untuk masa depan.
Yang bikin saya makin tertarik adalah filosofi di baliknya. Setiap gerakan bukan cuma koreografi estetik, tapi ada nilai budaya dan spiritual di dalamnya. Tari ini menyatukan nilai-nilai kesopanan, penghormatan, dan semangat hidup.
Mengapa Pakkuru Sumange Harus Dilestarikan?

Jujur, saya sempat sedih saat tahu nggak banyak anak muda Bugis yang tahu tentang tari ini. Mungkin karena arus budaya pop yang terlalu kencang, kita jadi lupa dengan warisan sendiri. Tapi culture Pakkuru Sumange bukan sekadar warisan. Ia adalah identitas.
Pelestarian seni seperti ini penting banget bukan cuma untuk komunitas Bugis, tapi juga untuk Indonesia secara keseluruhan. Tari ini punya potensi untuk jadi simbol kekayaan budaya Nusantara. Kalau kita nggak rawat sekarang, siapa lagi?
Saya pernah ngobrol dengan salah satu budayawan Bugis. Dia bilang, “Kalau kita kehilangan Pakkuru Sumange, kita kehilangan cara nenek moyang menyampaikan harapan.” Dalam hati saya langsung tersentil. Seni ini bukan hanya soal menari, tapi soal menyambung jiwa antar generasi.
Tips Mempelajari Pakkuru Sumange
Waktu saya memutuskan untuk belajar Pakkuru Sumange (walaupun nggak bisa nari dengan luwes 😅), saya pelajari dulu konteks budayanya. Ini tips dari researchgate buat yang juga pengen mencoba:
Pelajari Nilai-Nilainya Dulu.
Jangan cuma hafalin gerakan. Pahami dulu kenapa gerakannya seperti itu, dan maknanya apa.Ikut Komunitas atau Sanggar Budaya.
Kalau kamu tinggal di Makassar atau daerah sekitar, cari sanggar yang masih aktif melestarikan tari ini. Belajar langsung dari orang yang paham budaya lokal akan jauh lebih meaningful.Latihan Fokus pada Emosi, Bukan Sekadar Gerak.
Gerakannya memang terlihat lembut, tapi penuh makna. Fokuskan pada penyampaian rasa, bukan hanya bentuk fisik.Tonton Pertunjukan Aslinya.
Saya sempat nonton satu pagelaran adat di Bone. Di situ, tarian ini dipentaskan saat menyambut tokoh adat. Rasanya beda banget dibanding nonton di YouTube.Jangan Takut Salah.
Di awal, saya sempat merasa “kayak kaku banget geraknya.” Tapi kata pelatihnya, justru wajar. Yang penting niatnya ikhlas, semangatnya tulus.
Pengalaman Belajar Tari Pakkuru Sumange
Belajar tari ini, buat saya, bukan sekadar tantangan teknis. Tapi lebih ke perjalanan spiritual. Saya merasa kembali diingatkan untuk lebih menghargai nilai-nilai seperti kesopanan, penghormatan kepada yang lebih tua, dan rasa syukur.
Saat pertama kali latihan, saya bingung banget kenapa ada bagian tarian yang seperti menyentuh dada dan membungkuk. Ternyata itu simbol dari kerendahan hati dan penyampaian niat baik kepada semesta. Duh, merinding waktu dijelaskan seperti itu.
Saya juga sempat ikut latihan bersama ibu-ibu komunitas Bugis di Jakarta Selatan. Serius, meskipun mereka sudah sepuh, tapi energinya luar biasa. Bahkan saya sempat malu sendiri—karena mereka gerakannya lebih lentur daripada saya!
Dari situ saya sadar, pelestarian budaya seperti Pakkuru Sumange itu harus mulai dari rasa cinta dan hormat. Bukan cuma sekadar ikut-ikutan buat konten media sosial.
Pakkuru Sumange dan Generasi Muda: Tantangan dan Harapan

Di era digital ini, minat generasi muda terhadap seni tradisional seperti Pakkuru Sumange memang menghadapi tantangan besar. Banyak anak muda lebih tertarik pada tren TikTok, dance Korea, atau budaya pop lainnya. Tapi di sisi lain, ini juga jadi peluang.
Saya sempat bertanya ke beberapa siswa di kelas, “Kalian tahu nggak apa itu Pakkuru Sumange?” Sebagian besar menggeleng. Tapi setelah saya putarkan video singkat penampilan tari itu, beberapa langsung bilang, “Bagus juga, ya! Kayak meditasi gitu.”
Dari situ saya sadar, masalahnya bukan di minat mereka, tapi pada akses dan cara penyampaian. Kalau seni seperti ini dikemas ulang dengan pendekatan modern—misalnya lewat media sosial, workshop interaktif, atau integrasi dalam kurikulum seni budaya—saya yakin antusiasme mereka bisa tumbuh.
Bahkan saya pernah melihat seorang kreator muda di Instagram yang menyisipkan gerakan Pakkuru Sumange dalam video kontennya—tentu dengan izin dan tetap menjaga esensinya. Itu contoh bagus bagaimana budaya tradisional bisa disinergikan dengan platform modern.
Dukungan Pemerintah dan Komunitas Budaya
Pelestarian Pakkuru Sumange tidak bisa bergantung pada individu saja. Peran pemerintah dan komunitas budaya sangat penting. Saya pernah menghadiri salah satu festival budaya daerah di Makassar, dan saya senang melihat ada booth khusus yang memperkenalkan seni tari tradisional, termasuk Pakkuru Sumange.
Namun, masih banyak yang bisa ditingkatkan. Misalnya:
Penyediaan pelatihan rutin di sekolah-sekolah, khususnya di Sulawesi Selatan.
Festival tahunan khusus tari Bugis-Makassar yang menampilkan generasi muda sebagai penampil utama.
Digitalisasi arsip budaya, termasuk dokumentasi gerakan, musik pengiring, dan filosofi tarian, supaya bisa diakses luas oleh pelajar dan peneliti.
Bantuan dana untuk komunitas sanggar yang fokus pada pelestarian seni.
Salah satu sanggar di Bone, Sanggar Pakkuru Sumange Mandaraja, bahkan sudah mulai membuka kelas daring dan mengadakan workshop via Zoom. Kreativitas ini patut dicontoh.
Potensi Pakkuru Sumange di Kancah Internasional
Jangan salah, meskipun belum seterkenal tari Saman atau Kecak, Pakkuru Sumange punya potensi besar untuk dikenalkan ke dunia. Tari ini unik karena tidak hanya menampilkan keindahan gerak, tetapi juga menyampaikan nilai spiritual yang sangat kuat.
Bayangkan jika Pakkuru Sumange bisa ditampilkan di acara seperti World Culture Festival, atau sebagai bagian dari pertunjukan seni di UNESCO Cultural Day. Ini bukan hal mustahil, asalkan ada dorongan dari pemerintah dan komunitas untuk mempromosikannya secara strategis.
Beberapa tahun lalu, saya lihat grup tari dari Indonesia tampil di Jepang dan mendapat sambutan hangat. Kalau Pakkuru Sumange diberi ruang untuk tampil di panggung yang sama, dunia akan tahu betapa kaya dan dalamnya budaya Bugis.
Mari Hidupkan Kembali Jiwa Pakkuru Sumange
Pakkuru Sumange bukan hanya soal menari—ini adalah tentang menyambung rasa, menghargai leluhur, dan menghidupkan semangat budaya yang mungkin mulai redup.
Sebagai generasi penerus, kita tidak harus menjadi penari hebat. Tapi dengan belajar, mengenal, dan berbagi tentang seni ini, kita sudah ikut menjaga nyala api warisan budaya. Pakkuru Sumange tidak akan punah selama masih ada satu jiwa yang percaya bahwa budaya adalah identitas.
Kalau kamu punya kesempatan, datanglah ke sanggar, tonton pagelaran budaya, atau bahkan ikut satu sesi latihan. Rasakan sendiri kekuatan tari ini. Dan siapa tahu, kamu bisa jadi bagian dari mereka yang menghidupkan kembali Pakkuru Sumange di zaman modern ini.
Baca juga artikel menarik lainnya tentang Masjid Agung Demak: Jejak Sejarah dan Peranannya dalam Penyebaran Islam di Indonesia disini




